Rabu, 14 Oktober 2009

Cinta 24 Jam


Pengarang: Andrei Aksana
Penerbit: Gramedia

Sebenarnya buku ini sudah saya baca lumayan lama, yaitu sehari sebelum Lebaran 2009 tiba. Namun saya memutuskan untuk meresensinya karena menurut saya buku ini cukup menarik. Nama tokohnya sendiri saya sudah lupa.
Ceritanya tentang seorang selebritis, yang dulunya berasal dari desa. Suatu hari ibunya sakit dan meninggal. Dalam surat wasiatnya diberitahukan kepada si tokohutama bahwa ibunya punya kenalan di Jakarta, dan dengan uang tabungan ibunya, anak itu disuruh pergi ke Jakarta menemui kenalan ibunya.
Tiba di Jakarta ternyata kenalan ibunya itu sudah tak diketahui keberadaannya karena ketika si tokoh utama menuju alamat yang dituliskan ibunya, tempat itu sudah berubah menjadi perumahan mewah. Melihat keadaan si tokoh utama yang menyedihkan karena tidak mempunyai tempat tinggal dan hanya berbekalkan baju seadanya, akhirnya si pemilik rumah kasihan dan mengijinkan si tokoh utama tinggal di rumahnya secara gratis, dengan syarat dia harus membantu pekerjaan si tuan rumah.
Di Jakarta, si tokoh utama setiap hari menjalani audisi demi audisi sampai suatu saat ada yang menerimanya. Singkat cerita ia pun menjadi selebritis. Dan sebagai selebritis ternama, kawin-cerai adalah hal yang biasa. Sampai suatu hari ia merasakan cinta dengan seseorang, yang berbeda dari perasaan cinta yang sebelum-sebelumnya. Ia rela melakukan apapun untuk orang itu. Namun, setelah tepat 24 jam waktu dilewati bersama dengan orang itu, orang itu pergi dan tidak kembali lagi dalam kehiduoan si tokoh utama.

Kelebihan: bahasanya sangat puitis seperti pada karya Andrei Aksana yang lainnya. Diselipkan juga puisi-puisi pendek setiap beberapa paragraf, yang sesuai dengan isi cerita, tentunya. Endingnya tidak terduga. Untuk masa itu (sekitar 2004 atau 2005, saya lupa) tema yang diangkat tidak biasa.
Kekurangan: ceritanya terlalu singkat menurut saya, dan endingnya cenderung "kejam" walaupun tidak sekejam salah satu karya Andrei yang lain, "Karena Aku Mencintaimu" (tapi karena saya sudah agak lupa ceritanya, jadi tak saya resensi)

Rating: 8/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar